Pluralis Kristen


Penggunaan kata PLURALIS di dalam blog ini mengacu kepada sikap sosial yang menghormati agama atau keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita.

Dalam menghormati agama orang lain itu, kita tidak mesti terjerumus ke dalam pluralisme, yang merupakan sikap yang sudah terlalu jauh, sampai menerima atau mengakui bahwa semua agama adalah sama saja.

Jadi, singkatnya.....


Pluralis, Yes!
Pluralisme, no!

3 Mar 2010

Ahmadinejad

Dunia harus hancur, kata mereka. Tuhan menghendaki itu. Telah dinubuatkan perang penghabisan akan pecah, kata mereka. Iblis akan dihadapi dalam Armageddon itu, sorga akan terkuak, dan "Yang Setia dan Yang Benar" akan turun mengendarai seekor kuda putih.


.… memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: ‘Firman Allah’. "Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia, mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul semua bangsa…..

Gambaran yang seram itu dikutip dari Wahyu, bagian terakhir Alkitab. Saya tak tahu apa hubungannya dengan zaman ini. Tapi mereka -- orang-orang fundamentalis Kristen di Amerika -- menganggap itulah ramal yang pasti. Armageddon bukan hanya pasti terjadi, tapi juga, kata mereka, akan meletus di masa kini, di Timur Tengah, sebelum datang "Yerusalem yang Baru" di mana tak akan ada lagi laknat.

"Maka mereka menantikan perang itu"

Akan terkejutkah kita bila hari-hari ini orang-orang fundamentalis itu harap-harap cemas memandang Iran sebagai "Iblis" yang disebut dalam nubuat itu? Saya duga mereka akan bergembira melihat presiden negeri itu: kulitnya gelap, matanya menatap dari rongga yang dalam, cambangnya kencang, dan kata-katanya muram mengancam akan menghancurkan Israel dan menyiapkan senjata nuklir. Mereka akan bergembira sebab kepercayaan mereka akan dibenarkan, sang Antikristus telah muncul, Armageddon akan terjadi, dan halleluyah, bumi baru akan datang.

Ada satu ciri kaum fundamentalis, dari agama apapun: mereka memusuhi hidup. Hidup adalah sejenis hukuman, karena fana dan diubah waktu. Bagi mereka waktu yang berubah adalah jalan kemerosotan.. Sebab itu, mereka cegah waktu dari doktrin, tiap kalimat dalam Kitab Suci harus dipatok sebagai sesuatu yang mandeg. Bagi mereka hidup di dunia selalu terancam najis. Sebab itu Tuhan adalah suara amarah: "dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul semua bangsa".

Aneh, sebenarnya: Tuhan sebagai pembinasa, hidup sebagai cela. Padahal kaum fundamentalis itu tak perlu berkeluh kesah. Mereka tak menanggung sakit dan miskin. Mereka orang Amerika yang makmur. Pengumpulan pendapat oleh majalah Newsweek menjelang akhir 1999 (dua bulan sebelum milenium baru) menunjukkan 40% penduduk negeri itu percaya akhir zaman akan terjadi melalui Perang Besar Armageddon. Artinya mereka percaya seperti tertulis dalam Wahyu: setelah perang itu, setelah Iblis akan dilemparkan ke jurang maut, "kemah Allah" akan ditegakkan di tengah manusia, dan Ia akan menghapuskan air mata dan kematian.

Begitu rentankah orang-orang itu terhadap duka dan ajal, hingga bagi mereka sorga di bumi adalah kehidupan tanpa perkabungan dan ratap tangis? Kenapa mereka tak menggambarkan sorga sebagai situasi tanpa ketidak-adilan?

Apapun sebabnya, Juru Selamat dalam bayangan kaum Kristen fundamentalis tampaknya tak sama dengan "Ratu Adil" dalam bayangan orang-orang melarat di Jawa. Mungkin "adil" bukanlah persoalan pokok mereka.

Dalam sebuah buku yang kini dilupakan, Prophecy and Politics (terbit di tahun 1986), Grace Haskell memberi ilustrasi bagaimana yang dirayakan kaum Kristen fundamentalis itu justru apa yang tak adil. Buat menyiapkan buku itu Haskell pergi ke Israel dua kali bersama rombongan Pendeta Jerry Faldwell. Orang-orang ini kemudian disebut sebagai "Zionis Kristen" -- sangat siap untuk mengelu-elukan ketidak-adilan yang menyakiti orang Palestina. Mereka percaya bahwa janji Tuhan kepada Abram dalam Kejadian – akan ada negeri baru dan akan dijadikan Bani Israel bangsa yang besar --- berarti berdirinya Negara Israel seperti sekarang. Mereka tak peduli bila dengan demikian orang Palestina yang Kristen termasuk yang dizalimi. Bagi mereka, seperti ditulis Haskell, tiap tindakan yang dilakukan Israel sudah diatur Tuhan, dan sebab itu harus didukung.

Tentu tak adil. Tapi mereka sadar, dengan ketidak-adilan itu amarah akan berkobar, perang akan meletus, nubuat Armageddon akan terlaksana, akhir zaman akan tiba dan "kerajaan seribu tahun" Kristus akan datang.

Maka kaum "Zionis Kristen" selalu mendesak agar bantuan AS kepada Israel tak berkurang dan berusaha agar perdamaian tak terjadi. Di tahun 2000, tiga orang fundamentalis fanatik Amerika mencoba meledakkan Masjid Al-Aqsa untuk memprovokasi kemarahan orang Palestina. Di tahun 2003, Senator Tom DeLay, yang kurang-lebih mengikuti keyakinan yang sama, datang ke parlemen Israel dan mengatakan, ‘tak ada nilainya sikap di tengah-tengah dan mengambil posisi moderat’. Dengan kata lain: yang kuat tak perlu mengalah; kekuasaan melahirkan legitimasinya sendiri….

Mungkin ini menjelaskan kenapa Tom DeLay bisa menghalalkan keterlibatannya dalam skandal keuangan yang kemudian terbongkar, sebagaimana Amerika bisa membenarkan dirinya untuk merencanakan 125 bom nuklir baru tiap tahun sementara ia melarang negeri lain melakukan hal yang mirip, sedikit.

Tapi, sekali lagi, adil bukanlah urusan pokok di situ. Maka di manakah, dalam pandangan itu, apalagi dalam doktrin kaum Zionis Kristen, orang ingat khotbah Yesus di bukit? Di manakah suara yang memuliakan mereka yang miskin, yang lemah lembut, yang membawa damai dan sebab itu layak ‘disebut anak-anak Allah’?

Saya tak tahu. Yang saya tahu, Allah diseru di mana-mana, tapi bersama itu juga dilakukan kebengisan. Kita sering mendengarnya dari mulut Muslim, tapi sebetulnya tak hanya Muslim. Agaknya itulah inti surat Presiden Ahmadinejad kepada Presiden Bush: "Tuan Presiden, tuan mungkin tahu saya seorang guru".

Murid-murid saya bertanya bagaimana tindakan-tindakan [Amerika] dipertautkan dengan nilai-nilai yang dibawakan Yesus Kristus, nabi perdamaian dan permaafan.

Tentu saja Bush tak menjawab.

(Goenawan Mohamad, Majalah TEMPO edisi 15-21 Mei 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar